Home About Us Client Transaction Data Center Legal Article Contact Us
Wednesday, January 23rd 2019  
  News  
Language
English | Indonesia
You're in : News
Usaha Dari CIC, ADIA, hingga Temasek
February 12rd 2008
 

China dan Singapura, dengan sepak terjang lembaga-lembaga investasi milik pemerintah (Sovereign Wealth Fund/SFW) mereka, adalah contoh kapitalisme negara di Asia yang mampu membuat negara-negara maju ketar-ketir. Meski hanya negara pulau kecil, Singapura, bersama China, dengan topangan cadangan devisa 1,4 triliun dollar AS yang dimilikinya, diakui sebagai simbol sukses dan aktor penting baru kapitalisme dari negara berkembang.

Jumlah total dana yang dikelola oleh SFW negara-negara berkembang sekarang ini diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) mencapai 2,2 triliun - 2,5 triliun dollar AS. Sebanyak 2,1 triliun dollar AS di antaranya dikuasai oleh 20 SFW terbesar.

Tujuh terbesar SFW sekarang ini menurut Standard Chartered adalah:

Abu Dhabi Investment Authority/ADIA dari Abu Dhabi

625 miliar dollar AS

GPF Global dari Norwegia

322 miliar dollar AS

Government of Singapore Investment Corporation/GIC dari Singapura

215 miliar dollar AS

Kuwait Investment Authority/KIA dari Kuwait

213 miliar dollar AS

China Investment Corporation/CIC dari China

200 miliar dollar AS

Rusia

128 miliar dollar AS

Temasek Holdings dari Singapura

108 miliar dollar AS

Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia sekarang ini hanya sekitar 52 miliar dollar AS dan Produk Domestik Bruto (PDB) tak sampai 300 miliar dollar AS. Volume dana yang dikelola SFW ini mengalahkan dana yang dikelola para hedge fund di seluruh dunia (1,0 triliun dollar AS-1,5 triliun dollar AS) yang selama ini sepak terjangnya membuat ketar-ketir dunia dan dituding berada di belakang berbagai krisis finansial yang membahayakan stabilitas finansial global.

Juga jauh lebih besar dari akumulasi dana yang dikelola lembaga ekuitas swasta (equity fund) yang 700 miliar dollar AS - 1,1 triliun dollar AS. Namun, masih kalah dari dana yang dikelola oleh lembaga investasi yang lebih matang seperti UBS, Barclays Global Investors, Allianz Group, dan lain-lain yang total mencapai sekitar 53 triliun dollar AS.

Standard Chartered mengelompokkan para SFW ini berdasarkan tingkat transparansi dan strategi investasi mereka. Berbeda dengan GPF Global dari Norwegia yang cenderung konvensional, dua SFW dari Singapura, GIC dan Temasek, dinilai cenderung mengejar kepemilikan dominan di perusahaan yang diakuisisinya. Sebaliknya Qatar Fund dianggap sebagai investor strategis dan tak transparan seperti SFW dari China dan Uni Emirat Arab.

Di kalangan SFW negara berkembang, pemain terbesar sekarang ini, menurut Market Watch, adalah SFW dari negara-negara Timteng, seperti Abu Dhabi, Arab Saudi, Kuwait, lalu Singapura, Taiwan, Korsel, dan Malaysia. Arab Saudi diyakini menempatkan sekitar 250 miliar dollar AS di SFW-nya, sementara Abu Dhabi sekitar 875 miliar dollar AS.

ADIA, salah satu SFW Abu Dhabi yang didirikan tahun 1977, terutama mengincar bank-bank di London. Investasi besar ADIA terakhir antara lain di Prime West Energy Trust di Kanada (5 miliar dollar AS). SFW dari Abu Dhabi lainnya yang baru didirikan tahun 2002, Mubadala, juga mencengangkan dunia dengan akuisisi 5 persen saham perusahaan mobil Ferrari belum lama ini.

Sementara GIC antara lain membeli separuh kepemilikan pusat perbelanjaan terkemuka WestQuay di Southampton (600 juta dollar AS), Merrill Lynch Financial Centre (960 juta dollar AS), dan 50 persen saham Westfield Parramatta, perusahaan properti di Australia (584 juta dollar AS).

SFW dari Kuwait, KIA, antara lain membeli 7,2 persen saham di perusahaan otomotif Daimler-Chrysler (8,1 miliar dollar AS). China Investment Corporation membeli 10 persen saham Blackstone (3 miliar dollar AS). Temasek membeli 12 persen saham Barclays senilai hampir 2 miliar dollar AS, 12 persen saham ABC Learning Centres di Australia, dan 24 persen saham China Eastern Airlines.

Temasek yang merupakan BUMN-nya Kementerian Keuangan Singapura mulai disoroti ketika BUMN ini mengakuisisi Shin Corp milik keluarga Thaksin Sinawatra saat ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand, September 2006. Akuisisi perusahaan telekomunikasi terbesar di Thailand senilai 1,9 miliar dollar AS ini ditentang luas oleh rakyat Thailand dan ikut menjadi pemicu aksi unjuk rasa menentang Thaksin yang menuntun pada terjungkalnya Thaksin dalam kudeta oleh junta militer.

Bersama-sama dengan GIC yang mengelola 100 miliar dollar AS dana pensiun di Singapura dan memiliki 900 pegawai dan delapan kantor tersebar di sejumlah negara, Temasek menguasai lebih dari 180 miliar dollar AS aset. Sebagai perbandingan, aset yang dikelola Goldman Sachs Asset Management hanya 33 miliar dollar AS dan Blackstone, lembaga ekuitas swasta terbesar, 80 miliar dollar AS. Temasek yang memulai manuver akuisisi secara agresif di Asia empat tahun lalu, mencatat keuntungan rata-rata tahunan 18 persen sejak didirikan 1974.

Bukan hanya China dan Singapura. Sejumlah negara Asia lain, termasuk Rusia, Korsel, Australia, dan India tiga tahun terakhir ini juga terus menggemukkan SFW mereka. Berbeda dengan sejawatnya di China dan Singapura, Korsel lebih hati-hati. Korsel meluncurkan SFW-nya sendiri pada 2005. Lembaga ini sudah menyepakati akuisisi di luar negeri senilai 20 miliar dollar AS, 8 miliar dollar AS di antaranya sudah direalisasikan dalam bentuk instrumen investasi berpendapatan tetap di negara-negara maju seperti di AS, wilayah Eropa, dan Jepang. (tat)

 

 
 
  Total : 621 record(s) | | View All | Filter | Search  
 
 
     
08/16/2013   Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
07/05/2013   LexRegis Trip to Pari Island
06/18/2013   Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
05/31/2013   Removal of Data Center
12/28/2012   Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
06/22/2012   Government of DKI Jakarta Taking Advantages From raffic
06/22/2012   Resident Sue Foke for Continuous Traffic
06/22/2012   Judge Delete DPRD DKI as Defendant of Citizen Lawsuit
06/22/2012   Jakarta Traffic, Fauzi Bowo And SBY Being Sued
06/22/2012   Jakarta Traffic, Government of DKI And President Being Sued
 
 
 
 
Member Login
 
 
  Login
Sign Up
Forget your username or password?
 
Latest News Weekly
16/08/2013
Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
05/07/2013
LexRegis Trip to Pari Island
18/06/2013
Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
31/05/2013
Removal of Data Center
28/12/2012
Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
All news...
 
 
 
Home | About Us | Client Transaction | Data Center | Legal Article | | Contact Us