Home About Us Client Transaction Data Center Legal Article Contact Us
Saturday, November 18th 2017  
  News  
Language
English | Indonesia
You're in : News
HSBC Gagal Pailitkan Nasabahnya
October 22th 2009
 

The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) harus menelan pil pahit. Permohonan pailit yang diajukan terhadap nasabahnya, PT Ciptagria Mutiarabusana, ditolak majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Majelis hakim yang diketuai Pramodana menyatakan pembuktian pailit tidak sederhana karena masih ada sengketa jumlah dan waktu penagihan utang. “Kesemuanya bermuara pada ada tidaknya wanprestasi dari suatu perjanjian,” kata Pramodana saat membacakan putusan, Kamis (22/10).

 

Majelis hakim yang beranggotakan Maryana dan Syarifuddin menyatakan perihal wanprestasi itu harus dibuktikan lebih dulu oleh salah satu pihak. pembuktian itu masuk dalam ruang lingkup Pengadilan Negeri bukan Pengadilan Niaga. Dengan begitu, pembuktian palilit tidak sederhana seperti ditentukan dalam Pasal 8 ayat (4) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pemabayaran Utang (PKPU).

 

Sebenarnya, majelis hakim mengakui HSBC sebagai kreditur PT Ciptagria. Hal itu dibuktikan dari pengakuan PT Ciptagria sendiri dalam jawaban yang diajukan saat persidangan berlangsung. Hingga kini, hubungan hukum antara HSBC dan PT Ciptagria masih terikat. PT Ciptagria juga menyatakan sanggup melunasi utang-utangnya. Hanya soal jumlah dan waktu jatuh tempo tagihan, PT Ciptagria tak satu suara dengan HSBC.

 

Versi kuasa hukum HSBC, Abdullah Subur, PT Ciptagria berutang sebesar AS$683.806,38 dan EUR100.509,09. Utang itu timbul lantaran PT Ciptagria lalai memenuhi pembayaran utang atas transaksi bisnis tanggal 20 Agutus 2008. Hingga 18 Agustus 2009, jumlah utang pokok Loan Against Export dan Export Packing Credit diperkirakan sebesar AS$585.514,29 plus bunga AS$58.292,09. Sedangkan utang pokok Documents Against Acceptance sebesar EUR93.984 ditambah bunga EUR6.525,09. Jumlah itu belum termasuk bunga yang terus berjalan hingga utang dilunasi.

 

Dalam jawabannya, kuasa hukum HSBC, Misbahuddin Gasma, berpendapat sebaliknya. Seharusnya, kata dia, utang pokok dalam mata uang dolar Amerika berkurang sebesar AS$68.906,31. Sebab, Charles Vogele—rekan bisnis PT Ciptagria—mentransfer uang muka pembelian melalui transfer ke rekening PT Ciptagria sebesar itu pada  Juli 2008. Namun HSBC memblokir dana tersebut sehingga PT Ciptagria tak bisa menarik dana di rekening. HSBC lalu mendebet untuk pembayaran bunga dan denda dari Juli hingga 31 Desember 2008. Walhasil, sisa saldo akhir Desember 2008 hanya AS$62,05.

 

Sebelumnya, HSBC juga telah melakukan penyelesaian produk derivative forward PT PT Ciptagria dalam valuta asing euro terhadap dolar senilai EUR1 juta. EUR1 sama dengan AS$1,34. Padahal ketika itu kurs yang berlaku satu euro sama dengan AS$1,5. Di hari yang sama, HSBC juga menjual euro setara dengan AS$1,34 juta. Sedangkan PT Ciptagria harus membeli euro dengan harga AS$1,555 juta, sehingga merugi atas selisih kurs AS$215.5000 dan terjadi over debet pada rekening PT Ciptagria.

 

PT Ciptagria juga keberatan dengan jumlah denda dan bunga yang ditentukan secara sepihak. Apalagi, HSBC belum memperhitungkan jumlah bunga dan denda yang masih berjalan. Dari fakta itulah, majelis hakim berkesimpulan terdapat fakta yang tidak sederhana dalam pembuktian pailit.

 

Soal keberadaan kreditur lain yang diajukan HSBC, majelis hakim hanya mengakui keberadaan Citibank NA yang memiliki tagihan sekitar AS$5,479 juta. Namun empat kreditur lain yang diajukan HSBC tidak diakui, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat, PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank Central Asia Tbk.  Sebab, dalam persidangan tidak ada yang membuktikan keempat bank itu sebagai kredtur PT Ciptagria.

 

Usai bersidang, Abdullah Subur menyatakan akan mempelajari putusan lebih dulu untuk menentukan sikap, kasasi atau tidak. “Biasa, dalam putusan ada yang ditolak dan ada yang diterima,” ujar Abdullah. Sementara, Misbachudiin menyatakan puas atas putusan hakim. “Sesuai dengan argumen kita,” ujarnya.


(hukumonline)

 
 
  Total : 621 record(s) | | View All | Filter | Search  
 
 
     
08/16/2013   Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
07/05/2013   LexRegis Trip to Pari Island
06/18/2013   Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
05/31/2013   Removal of Data Center
12/28/2012   Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
06/22/2012   Government of DKI Jakarta Taking Advantages From raffic
06/22/2012   Resident Sue Foke for Continuous Traffic
06/22/2012   Judge Delete DPRD DKI as Defendant of Citizen Lawsuit
06/22/2012   Jakarta Traffic, Fauzi Bowo And SBY Being Sued
06/22/2012   Jakarta Traffic, Government of DKI And President Being Sued
 
 
 
 
Member Login
 
 
  Login
Sign Up
Forget your username or password?
 
Latest News Weekly
16/08/2013
Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
05/07/2013
LexRegis Trip to Pari Island
18/06/2013
Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
31/05/2013
Removal of Data Center
28/12/2012
Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
All news...
 
 
 
Home | About Us | Client Transaction | Data Center | Legal Article | | Contact Us