Home About Us Client Transaction Data Center Legal Article Contact Us
Saturday, November 18th 2017  
  News  
Language
English | Indonesia
You're in : News
Pemaksaan Pengunduran Diri Karyawan Berujung Gugatan
November 29th 2009
 

Perkara bermula ketika perusahaan Total Buah Segar memerintahkan karyawannya tetap bekerja di hari libur lebaran. Mereka yang menolak disodorkan surat pengunduran diri.

 

 

Dipaksa mengundurkan diri, 11 karyawan Total Buah Segar cabang Pondok Indah menggugat perusahaan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Jakarta. Para penggugat mengaku memiliki masa kerja dua-delapan tahun. Mereka diantaranya Tri Handayani (supervisor), Partini, Sri Maryana, Suroso, dan lain-lain.            

 

Persidangan yang dipimpin hakim Sapawi ini pun telah memasuki tahap pembuktian. Lantaran pihak perusahaan atau kuasanya tak hadir, sedianya sidang yang akan memeriksa bukti-bukti tertulis pihak perusahaan, menjadi ditunda hingga Kamis (3/12) pekan depan.

 

Ditemui sebelum sidang, kuasa hukum Tri Handayani dkk, Muhammad Isnur dari LBH Jakarta mengatakan semuanya bermula saat pihak perusahaan mengeluarkan pengumuman tertanggal 24 September 2008 agar karyawannya masuk kerja pada hari kedua lebaran yakni pada 2 Oktober 2008. Jika tidak ditaati, perusahaan akan melakukan pemotongan upah yang besarnya akan ditentukan kemudian.

 

“Pas mau lebaran tahun lalu, perusahaan menempelkan pengumuman bahwa hari kedua lebaran teman-teman pekerja disuruh masuk kerja, bagi yang tak masuk akan dipotong upahnya. Padahal hari kedua lebaran masih hari libur nasional,” kata Isnur kepada hukumonline, Kamis (26/11). “Menurut Pasal 85 UU Ketenagakerjaan, hari libur nasional, pekerja boleh gak bekerja.”   

 

Atas pengumuman itu, kata Isnur, keesokan harinya para karyawan membuat blanko nama pekerja yang keberatan atas isi pengumuman itu dan memohon kebijaksanaan perusahaan. “Sebelumnya para karyawan mempertanyakan kalau gak masuk akan dipotong berapa upahnya, bukan dapat uang lembur malah dipotong upahnya. Setelah menghadap manajemen malah marah-marah,” ujar pengacara dari LBH Jakarta itu menuturkan.

 

Tak lama kemudian, perusahaan memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan memaksa para karyawan untuk menandatangani surat pengunduran diri yang formatnya sudah disiapkan. “Pekerja dipaksa ditawarkan untuk tetap bekerja atau mengundurkan diri. Kalau mau mengundurkan diri perusahaan menyodorkan surat untuk ditandatangani. Setelah itu pekerja tak dikasih pesangon.”

 

Menurut Isnur, dengan ditandatanganinya surat pengunduran diri itu, perusahaan menganggap telah selesai. Padahal menurut UU Ketenagakerjaan prosedur pengunduran tak seperti itu. Ia menjelaskan bahwa proses pengunduran diri harus diajukan 30 hari sebelumnya dan atas kemauan pekerja sendiri.

 

“LBH Jakarta juga pernah menangani kasus serupa, seorang guru di sebuah yayasan yang dinilai mengundurkan diri. Tetapi hakim memutuskan bukan kategori mengundurkan diri karena bukan kehendak si pekerja dan tak diajukan 30 hari sebelumnya,” jelasnya.

 

Karenanya, ia menganggap bahwa pengunduran diri yang tak sah itu sama dengan PHK dengan alasan efisiensi yang uang pesangonnya sebesar dua kali ketentuan Pasal 156 UU Ketenagakerjaan.  Namun di anjuran mediator, Tri Handayani dkk disuruh bekerja kembali. Tetapi perusahaan tak mengindahkan anjuran mediator dan malah beberapa kali mengusir Tri Handayani dkk. “Nah kalau sekarang mereka disuruh kerja kembali agak sulit karena beban psikologi.”

 

Berdasarkan berkas jawaban yang diperoleh hukumonline, perusahaan berdalih Tri Handayani dkk tak mengindahkan pengumuman dan sudah secara tegas menolak untuk masuk kerja serta menyatakan mengundurkan diri pada 27 September 2008 tanpa paksaan dari pihak manapun. Sebab, tindakannya itu merugikan  perusahaan karena saat itu tengah ada kenaikan penjualan dan banyak pelanggan yang tak terlayani.

 

Saat kesepakatan pengakhiran hubungan kerja itu, perusahaan mengaku telah memberikan kompensasi yakni sisa gaji, sisa lembur, dan uang tambahan sebesar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Selain itu diberi tambahan bonus sebesar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per orang.    

 

Menurut perusahaan, Tri Handayani dkk dinilai tak punya itikad baik, yang semestinya dapat saling menunjang/bekerja sama untuk kemajuan Total Buah Segar. Bukan malah mogok untuk tidak masuk kerja saat lebaran. Aksi mogok itu dilakukan oleh 31 karyawan, tetapi 20 karyawan mau mendengar apa yang dikatakan teman sekerjanya untuk mencabut surat pengunduran diri dan sekarang 20 karyawan itu masih bekerja.

 

Sumber : HukumOnline

 
 
  Total : 621 record(s) | | View All | Filter | Search  
 
 
     
08/16/2013   Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
07/05/2013   LexRegis Trip to Pari Island
06/18/2013   Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
05/31/2013   Removal of Data Center
12/28/2012   Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
06/22/2012   Government of DKI Jakarta Taking Advantages From raffic
06/22/2012   Resident Sue Foke for Continuous Traffic
06/22/2012   Judge Delete DPRD DKI as Defendant of Citizen Lawsuit
06/22/2012   Jakarta Traffic, Fauzi Bowo And SBY Being Sued
06/22/2012   Jakarta Traffic, Government of DKI And President Being Sued
 
 
 
 
Member Login
 
 
  Login
Sign Up
Forget your username or password?
 
Latest News Weekly
16/08/2013
Revision of the Minister of Agriculture Regulation No. 26/2007 regarding Plantation Business Permit
05/07/2013
LexRegis Trip to Pari Island
18/06/2013
Seven Important Points of BKPM Regulation No. 5/2013
31/05/2013
Removal of Data Center
28/12/2012
Merry Christmas 2012 & Happy New Year 2013
All news...
 
 
 
Home | About Us | Client Transaction | Data Center | Legal Article | | Contact Us